Senin, 19 Mei

Pkl. 16.00 wita

Biarkan aku menjaga perasaan ini hooo…

Menjaga segenap cinta yang telah kau beri

Engkau pergi aku takkan pergi

Kau menjauh aku takkan jauh

Sebenarnya diri ku masih mengharapkan mu

H

p ku berbunyi, aku segera mengambilnya diatas meja belajar ku. Sebuah nama tertulis di layar Hp, ‘Ant Nic’. Ku letakkan bolpoin yang ku pegang di atas buku PR Fisika yang sedang ku kerjakan. Lalu ku pencet tombol hijau  pada menu Hp ku.

“Kenapa Ton?” tanya ku memulai pembicaraan.

“Meosi, loe lagi ngapain?”Antoni malah balik nanya.

“Kak Meoci…. Kak meoci…” suara anak kecil berteriak teriak memanggil nama ku.

“Lagi ngerjain PR, kenapa?”

“Duh Meosi, belajarnya nant…………………………”

What ? ngomong apa Antoni? Suara dua orang anak kecil yang ribut sekali membuat ku tak mendengar apa yang di katakana Antoni.

“Ton, bisa di ulang nggak?nggak kedengeran nih….” Pinta ku.

“Sttt… jangan ribut dong sayang, kakak lagi ngomong sama kak meoci nih.” Aku bisa mendengar suara Antoni memperingatkan adik – adiknya.

“Me, tolong temenin adik – adik gue jalan – jalan dong. Mereka pengen jalan bareng loe.”

“Jalan bareng gue?”

“iya! Nanti bareng gue juga deh…”

“Oh, ya udah.”

“loe kesini ya, gue tunggu. Thanks…”

Tut…tut…

Telpon terputus.

#……………………..*…………………… #

A

ku berada didepan sebuah rumah bertingkat dua, tepatnya rumah milik keluarga Antoni. Dari sini terlihat rumah pohon ku yang masih berdaun rimbun meski usianya sudah tua. Rumah pohon inilah yang membatasi antara rumah ku dan rumah Antoni, Karna rumah kami berdekatan. Jadi jangan heran kalau kami berdua akrab banget melebihi saudara kembar. Antoni tau semua tentang aku, aku juga tau semua tentang dia, Mulai dari nyokap bokapnya, sampai saudara – saudaranya, juga kebiasaan dia, kesukaan dia, hoby nya, Emm… bahkan aku juga tau kalau dia suka pakai celana dalam warna Abu – abu. He… he…

Oh ya, Bokapnya Antoni sudah meninggal, jadi di rumah ini tinggal dia, nyokapnya, dan kedua adiknya (Niken dan Tora).

Tok! Tok! Tok! Aku mengetuk pintu

“Niken! Tora! Kak Meoci datang!”

Tak lama kemudian, seorang cowok bercelana jeans, baju Tshirt hitam, dan bertopi hitam, membuka pintu dengan menggandeng dua orang anak kecil. ‘Antoni’ hari ini dia cakep banget! Lebih cakep dari hari – hari biasanya, bahkan lebih cakep dari Lucky Perdana.

Begitu pintu terbuka, Niken dan Tora menghambur memeluk ku.

“Kak Meoci! Ayo jalan!” kata Tora bersemangat.

“iya kak, ayo cepat!” kata Niken tak kalah semangatnya.

“Ya udah ,Tora sama Niken mau jalan – jalan ke mana?” tanya ku.

“keliling complex aja kak!” jawab Niken.

“Kenapa nggak ke mall aja?” tanya Antoni.

“bosen dong kalau ke mall terus,” jawab Niken.

“Ok deh! Ayo jalan…” ajak ku.

Aku menggandeng Tora, anak kecil yang baru berusia 3 tahun. Sedangkan Antoni menggandeng Niken (kakaknya Tora yang sekarang berusia 5 setengah tahun).

Hmm… sore hari keliling complex perumahan ini, rasanya asyik juga. Tapi yang bisa di lihat hanya anak – anak kecil yang sedang bermain sepak bola, basket, petak umpet, dan lainnya.

“Kak Meoci, Tola mau itu!” kata Tora sambil menunjuk Es Cream.

“Oh, ES Cream?”

Tora mengangguk.

Aku segera menggendong Tora, lalu berjalan menghampiri seorang pria bertopi yang menjual Es Cream. Sementara Niken minta ditemani Antoni melihat perlombaan balap karung.

Emm… biasanya para penjual dipanggil lelek oleh para pembelinya. So… Aku panggil lelek juga deh.

“lek, Es cream nya 2 ya, rasa coklat.”pinta ku.

Lelek itupun mengambilkan 2 buah Es Cream rasa coklat.

“Ini Es creamnya bu…” kata lelek sambil menyerahkan 2 buah Es cream. ‘Ugh… sebel deh! Aku kan masih sekolah, kok dipanggil ibu sih?’ batin ku.

Aku menerima Es Cream itu.

“Meosi !” lelek itu memanggil nama ku.

What? Dari mana dia tau nama ku? Akukan nggak ngasih tau nama ku. Dari mana dia tau? Apa dia tetangga ku? Kok aku nggak kenal? Kepala ku penuh tanda tanya. Ku perhatikan penjual Es Cream itu dengan wajah heran, sehingga dia membuka topi yang di pakainya.

“Oh, Nico !”aku baru menyadari kalau panjual Es Cream itu adalah Nico.

Nico tersenyum.

“Anak loe ya?” tanya Nico ngawur.

“sembarangan !”jawab ku agak sebel.

Aku memberikan satu Es cream pada Tora, dan satunya akan ku berikan pada Niken.

“Kenalin, ini Tora,adeknya temen gue,” jelas ku.

“Oh…”(menganggukkan kepala) “Tapi menurut gue, anak ini lebih cocok jadi anak loe deh,” kata Nico sambil senyum – senyum.

Aku manyun.

“Enak aja! Gue tuh belum pantes punya anak.”

Nico tersenyum.

“BTW, sejak kapan loe jadi lelek penjual Es Cream begini?”

“Udah lama lagi,sejak gue masuk kelas satu SMA. Eh…. Jangan panggil gue lelek dong !” kata Nico.

“Emangnya kenapa? Biasanyakan penjual – penjual makanan beginian dipanggil lelek. Kalau nggak ya… di panggil Om! Ha… ha…”

“yah… emang, tapi khusus loe, jangan manggil gue dengan panggilan begituan dong!” pinta Nico.

“Hm… Ok! Ya udah deh, gue mau nyari kakak nya Tora dulu ya.”

“Yup! thanks sudah mau beli Es Cream gue.” Kata Nico.

Aku tersenyum dan melangkah pergi, karna hari sudah semakin sore makanya aku mencari Antoni. Eh, ternyata Antoni dan Niken lagi asyik nonton balap karung, So… aku tak berani mengganggu mereka dan terpaksa ikut nonton walau sebenarnnya aku tak tertarik.