Satu

Tit…..Tit…….Tit…….

J

am beker diatas meja kamar ku berbunyi, aku segera bangun dan mematikannya. Ku lirik arah jarum jam.

‘Huh….. Sudah jam 5 subuh, tapi masih ngantuk nih….. Mmm Mumpung lagi libur solat, tidur lagi ah !’ batin ku.

Ku rebahkan lagi tubuh ku diatas kasur yang empuk. ku pejamkan mata ku. Tidur…….

Sayup terdengar suara seorang cowok memanggil – manggil nama ku.

Nico Antoni….

Sejak kapan dia ada di atas pohon mangga, ada disamping ku.

“Me, coba lihat ! Pemandangannya bagus ya ……Gak kalah bagusnya sama pemandangan diatas rumah pohon” kata Antoni.

Kulihat di sekelilingku, aku ada di atas pohon Mangga dan ….. ada ladang yang terhampar luas penuh dengan padi. dari atas sini kulihat padi seperti padang rumput. Gak ! Pemandangan disini gak sebagus diatas rumah pohon.

Antoni…..

“Meosi…. sudah siang, kamu nggak sekolah ?” Suara lembut Mama membangunkan ku dari mimpi indah ku.

Mimpi bersama Antoni, teman kecil ku.

Ternyata diatas pohon mangga nggak seindah diatas rumah pohon(tempat aku dan Antoni bermain dahulu).Tapi sekarang rumah pohon itu kosong, aku tidak pernah manjat pohon lagi semenjak Antoni pergi ke Surabaya bersama tantenya untuk melanjutkan SMAnya. Dan pastinya di sekolah yang lebih maju dari sekolah ku.

Sudah setahun lebih aku tak bertemu lagi dengannya. sekarang aku sudah kelas 2 SMA, jurusan IPA, karena aku suka pelajaran Biologi.

Setahun tidak bertemu Antoni, rasanya jadi kangen banget deh…..

Hari – hari ku di sekolah jadi hampa karna dia tak ada bersama ku. Orang tua kami bisa memakluminya, karena kami berdua sudah terbiasa bersama sejak kecil.

“Meosi! Kok diam sih? Kamu nggak sekolah?”

Ups! Suara mama menyadarkan ku dari lamunan. Ku lirik jam beker diatas meja belajarku. Ya Ampun….. sudah jam 7.00 lebih. Aku segera melompat dari kasur dan bergegas ke kamar mandi.

Jam 7.30 aku sudah bersiap – siap pergi ke sekolah, Aku pasti terlambat,tak apa lah, dari pada aku tak masuk sekolah, nanti tak bisa mengikuti ulangan kimia, mana nggak ada ulangan susulannya lagi.

“Ma.… aku berangkat sekolah dulu ya!”kata ku sambil mencium tangan mama.

“Iya, hati – hati ya….”Ujar mama memperingatkan ku.

Aku berjalan meninggalkan rumah. Sekolah ku masih agak jauh, dah gitu nggak ada taxi lagi.So pasti aku telat.

Aku mempercepat langkah ku. Tiba – tiba saja suara motor berhenti di samping ku. aku berhenti melangkah dan menoleh kesamping. Seorang cowok berbaju putih Abu – abu tersenyum pada ku.  Srrr……bulu kudu ku merinding.

nggak ! aku nggak boleh takut.

Cowok ini satu sekolah dengn ku, sama – sama kelas dua, tapi beda jurusan. Dia anak kelas IPS. Namanya Nico Permana. Akrabnya dipanggil Nico.

“Ikut gue aja biar nggak terlambat,” kata Nico.

“Meskipun gue ikut loe juga bakal tetap terlambat,” jawab ku.

Nico hanya tersenyum.

“ Udah… mau ikut nggak ?” tawarnya lagi.

Tanpa menjawab aku langsung naik, dan Nico langsung menjalankan motornya.

Begitu sampai di sekolah, Aku segera turun dari motor Nico dan berlari menuju kelas. Langkah ku terhenti setelah aku berada tepat didepan kelas 2 IPA yang terlihat tenang. mungkin karena murid – muridnya sedang asyik mengerjakan soal kimia. Aku segera mengetuk pintu kelas dan masuk kedalamnya.

“Ma’af Pak, terlambat !” Ucap ku.

Pak Sigit, guru kimia ku, menurunkan kaca matanya seraya ingin melihat ku lebih jelas lagi.

“Meosi ! kamu tau ini jam berapa?”tanya pak Sigit.

“Jam 8 pak .”

“Kamu tau sekolah ini masuknya jam berapa?”

“Jam 7.15 .”

“Kamu tau kamu terlambat berapa menit?”

“Ah ! kelamaan!!! Waktunya keburu habis nih…” kata ku dengan nada tak sopan. Tapi guru itu hanya tersenyum.

“ya sudah, cepat kerjakan soal ini.” pak sigit menyerahkan soal kimia pada ku, aku pun segera mengambilnya lalu berjalan kearah kursi dimana aku duduk sambil melihat – lihat soal kimia.

‘Gila! 50 soal? banyak banget!’ batin ku.

“Waktunya tinggal satu setengah jam lagi !” pak Sigit memperingatkan.

Apa? satu setengah jam lagi? jadi 50 soal harus ku selesaikan dalam waktu segitu? Apa bisa?

Langkah ku terhenti, mata ku tertuju pada sebuah tas ransel berwarna hitam di atas meja ku.’Tas siapa ini? selama aku sekolah di sini nggak ada anak yang berani menaruh tas nya di meja ku. Karena mereka tau, aku nggak suka kalau ada benda milik orang lain di meja ku. Tapi pemilik tas ini sungguh keterlaluan ! Lancang banget!

Aku segera menepiskan tas itu sampai jatuh ke lantai. ‘Peduli apa aku pada tas itu, toh salah pemiliknya sendiri yang meletakkan tasnya di tempat ku.’

Aku duduk dan mulai mengerjakan soal kimia.

“Siapa loe? duduk di tempat orang nggak bilang – bilang. Ancrit! Pake buang tas gue segala lagi,” Omel seorang cowok yang memiliki tas hitam itu.

‘Suaranya….. kok nggak asing ya? sepertinya aku pernah mendengarnya.’ karena penasaran, aku menoleh kearah tuh cowok. Dia sedang jongkok mengambil tasnya, tapi tak lama ia menoleh kearah ku.

Wajah ini…… Suara ini…..

“Antoni ?” aku kaget,setengah nggak percaya.

Antoni tersenyum, lalu berdiri.

“Meosi ?”

“Antoni…..” Aku berdiri dan segera memeluk Antoni.

Teman – teman yang lain merasa terusik, sehingga mereka menoleh kearah kami. Tapi aku tak peduli pada mereka.

“Antoni, gue kangen sama loe.”Ucap ku lirih, sehingga pak sigit dan teman – teman yang lain tak akan mendengar suara ku. Aku benar – benar tak menyangka, akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan Antoni setelah setahun tak bertemu.

“Ehm…..Ehm….” Teman – teman yang lain mencoba menggoda. Aku segera melepas pelukan ku, ku lihat Antoni malah tersenyum.

“Meosi ! Nico! bisa duduk nggak?” Singgung pak Sigit.

Aku dan Antoni hanya diam, lalu kami duduk di tempat kami yang kebetulan satu meja. NICO? Aku jadi teringat masa – masa SMP ku dulu. Orang – orang memanggil Antoni dengan panggilan Nico, hanya beberapa anak saja yang memanggilnya Antoni. salah satunya aku. Dulu….. Antoni seneng banget membangga – banggakan namanya.  kalau dia dapat pujian sedikit saja, katanya ….

“ siapa dulu orangnya, Nico Antoni gitu loh…..”

“ Waktunya tinggal tiga puluh menit lagi !” kata pak sigit memperingatkan kami. Duh! aku jadi panik. yang ku kerjakan baru saja lima belas soal, sedangkan waktunya tinggal tiga puluh menit. OH NO!!! mana bisa 35 soal selesai dalam waktu 30 menit.

“Sudah selesai belum ?” Tanya Antoni.

“belum…..”jawab ku.

“Berapa nomor lagi?”

“35 nomor,” jawab ku.

“Apa !” Antoni kaget nggak percaya,”Ngapain aja loe dari tadi?”

Aku hanya tersenyum. nggak biasanya aku seperti ini. Entah mengapa aku jadi terlihat Gonggong di depan Antoni.Dari tadi aku ngelamunin Antoni melulu, sampai lupa ngerjain soal kimia deh….

“Nih !Copy paste aja,”Kata Antoni sambil menggeser bukunya ke meja ku.

Tanpa menjawab aku langsung menyalin jawaban Antoni ke buku ku.

Tettt…. Tettt……

Bel berbunyi bertepatan dengan aku selesai menyalin. Lalu jawabannya ku kumpul di atas meja guru. Akupun kembali ke tempat duduk ku, Ku lihat, Antoni memperhatikan ku sambil senyum – senyum melihat ku. entah apa yang lucu dari ku sehingga dia jadi senyum – senyum seperti orang gila.

“Semalam loe nggak belajar ya?” Tanya Antoni.

“Siapa bilang? Gue belajar sampai jam satu malam lagi,”

“Belajar apa belajar? Kok tadi nggak bisa ngerjain soal? Pada hal soalnya gampang loh…” singgung Antoni.

“He…He…He… tadi malam gue belajar sambil dengerin lagu Kucing Garong. Karna lagunya asyik, jadi gue joget sambil baca buku kimia,” jelas ku.

“Ha…Ha…Ha….” Antoni tertawa ngakak.”Loe joget?”

Aku hanya ngangguk.

“Coba kalau tadi malam gue kerumah loe, pasti gue bakal mati ketawa ngakak karena lihat badut lagi joget !” katanya sambil ketawa.

Ugh…. Ucapan Antoni membuat ku tersinggung, mentang – mentang aku tak bisa joget, dia menghina ku !!!

Sementara Antoni tertawa, aku hanya bisa diam menahan sakit hati yang aku rasakan. Sampai Antoni puas ngetawain aku.

“Kalau gue, hari ini kan hari pertama gue masuk di sekolah ini.jadi gue nggak tau kalau hari ini ada ulangan kimia.Tapi buktinya, gue bisa aja kok ngerjain soal kimia !” kata Antoni membanggakan dirinya.

Antoni tersenyum lagi,

“Siapa dulu orangnya, Nico Antoni gitu loh !” Antoni berkata sambil merapikan kerah bajunya.

Kenapa sih, kebiasaan nya itu nggak berubah dari dulu sampai sekarang? Sudah orangnya Narsis, suka nyeplas – nyeplos kalau ngomong, tak pernah peduli perasaan orang lain, semaunya sendiri, Egois !

Tapi, biarpun dia orangnya seperti itu, aku tak bisa marah dan membencinya. Justru kalau dia tak ada, aku kesepian.